
70 Tahun Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia dirasakan oleh seorang pejuang yang terlupakan bahkan tidak dipedulikan lagi orang-orang yang mengatasnamakan dewan rakyat seperti yang dialami oleh Agus Salim asal Jawa Barat yang sampai "mengemis" dan meminta haknya sebagai rakyat yang tidak mampu. Bapak berusia 100 tahun ini tentunya lebih mengerti bagaimana pahitnya hidup di masa penjajahan dulu sehingga beliau ini meminta haknya kepada para pemimpin yang sudah berduduk nyaman di kursi empuk mereka. Sungguh, ketika saya mendengarkan cerita dari mbah saya yang sudah berusia 92 tahun ini dan beliau masih hidup sampai sekarang, sungguh masyarakat di sekitar rumah saya waktu itu selalu dicekam rasa ketakutan yang selalu di teror oleh PKI dan serdadu-serdadu Jepang.. Dan berbanding terbalik dengan saat ini dimana bangsa ini di teror oleh pemimpin-pemimpin yang haus akan kekuasaan dan kekayaan dengan melakukan manipulasi dan korupsi. Mereka bahkan tanpa rasa bersalah menteror teman-teman mereka sendiri jika tidak berada dalam satu lingkaran dengan dia.. Sungguh, pemimpin-pemimpin seperti itu lebih biadab dari penjajah
70 Tahun Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia juga dirasakan oleh pemuda-pemudi bangsa ini namun kebanyakan mereka juga tidak peduli dengan apa yang telah terjadi dengan bangsa ini, mereka bisanya hanya foya-foya, melakukan hubungan bebas, perzinahan dimana-mana, melawan orang tua, melawan guru, menjadi teroris bangsa, dan terlibat dalam minuman dan obat terlarang. Mungkin inilah yang mereka maknai dengan kemerdekaan bagi mereka sendiri, merdeka untuk bebas dalam kehidupan. Bahkan dalam menyambut perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia ada yang cuma ngomel gak jelas maksudnya seperti yang punya blog ini, bisanya cuma menulis artikel yang bikin orang yang membacanya merasa gimana gituh... Ada yang merasa gak nyaman dengan artikel ini?