-->

Peluang Kerja Untuk Sukses Bukan Ijazah Yang Menentukan

Peluang Kerja Untuk Sukses Bukan Ijazah Yang Menentukan

Setiap manusia memiliki hak untuk memperoleh pekerjaan dan merasakan kesuksesan hidup namun tidak semua manusia bisa mendapatkan peluang kerja untuk sukses meskipun segala usaha telah dilakukan. Bahkan orang-orang yang 90% memiliki peluang untuk kerja dan peluang untuk sukses malah mengalami perputaran yang terbalik, mereka malah bingung dengan keadaan mereka sendiri, mereka malah bertanya-tanya kenapa bisa terjadi seperti ini. Namun peluang kerja untuk mendapatkan kesuksesan malah didapat oleh orang-orang yang hampir tidak memiliki peluang untuk sukses karena mereka sadar dengan keadaan mereka dan dibalik kesadaran itulah yang bisa mengubah mereka mendapatkan peluang untuk kerja dan meraih sukses dari diri mereka sendiri. Siapa yang memiliki peluang kerja untuk sukses tersebut namun gagal untuk mendapatkannya? Dan siapa yang hampir gagal mendapatkan peluang kerja tersebut namun mereka sukses membalikkan keadaan mereka menjadi lebih baik, bahkan lebih baik dari apa yang mereka pikirkan

Peluang Kerja Untuk Sukses Bukan Ijazah Yang Menentukan

Sedikit ulasan diatas merupakan ide dari sebuah status yang saya kutip di sosial media Facebook. Status tersebut sangat bagus untuk dijadikan renungan untuk membangkitkan semangat kita dalam mencari peluang usaha untuk sukses di dunia. Status tersebut oleh Daru Indriyo yang tidak saya kenal dan saya bukan menjadi temannya. Status ini saya dapatkan karena ada teman saya yang membagikannya sehingga saya bisa melihat dan membaca status yang menurut saya benar-benar sangat menarik. Saya membagikannya di blog ini karena saya ingin membagikannya buat teman-teman yang lain dengan tujuan kalau kita bisa melakukan yang terbaik buat diri kita sendiri dan tentunya buat orang-orang tersayang disamping kita. Berikut status yang benar-benar menarik untuk di baca dan diterapkan dalam kehidupan kita, status masih Aseli dan tidak saya rubah sedikitpun dan hanya judul dari artikel ini yang saya sesuaikan

Daru Indriyo
Berikut ini Kuliah WA dari pak Iwan Novarian:

Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Sukses dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?

Ada anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.

Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.

Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.

Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 mengeluhkan tentang penghasilannya yang katanya tidak mencukupi. Ketika saudaranya yang masih dalam lingkup satu institusi dinaikkan sementara saudara lainnya tidak naik. Gelombang protes muncul dimana-mana. Muncul istilah-istilah yang terkadang membuat kening ini berkerenyut. Anak Tiri, Bawang Merah – Bawang Putih atau istilah lainnya yang membuat kita tersenyum sendiri.

Setidaknya ada tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu. Yaitu : The Power of Kepepet, The Darkness of Gengsi dan The Magic of Street Smart Dari sinilah peluang kerja untuk sukses itu muncul dari setiap orang

Faktor # 1 : The Power of Kepepet
Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.

Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.

Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.

Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada "faktor yang me-mepet" dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.

Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk ZONA NYAMAN (COMFORT ZONE). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati. Itulah sebabnya tidak banyak PNS yang berani Resign untuk mengambil keputusan besar meraih kesuksesan YANG LEBIH BESAR. Karena COMFORT ZONE telah merasuk kedalam jiwa dan sanubarinya yang paling dalam. Jadi PNS saja sudah alhamdulillah. Gak usah neko-neko. Nggolek dunyo gak ono entek e. Nek metu juga durung karuan. Nek gak nduwe duit yo nyilih koperasi sih entuk. Bank-Bank juga gelem karo SK PNS kok. He he he he... Hidup itu pilihan. Itulah bahasa penolakan yang sering kita dengar.

Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun –untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.

Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi
Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan. Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.

Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.

Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling kepasar-pasar jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah,bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).

Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.

Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.

Faktor # 3 : The Magic of Street Smart
Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku. Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal "ilmu street smart" – KECERDASAN JALANAN yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap "berjarak dengan realitas".

Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski Cuma lulusan SMP.

Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang "ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan" dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).

Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orang-orang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.

Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih sukses dibanding lulusan S1 dan S2 :
The Power of kepepet,
The Darkness of gengsi dan
The Magic of street smart.

Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Selamat Pagi.
Selamat Beraktivitas.
Semoga Segala Aktivitas kita hari ini bernilai ibadah disisi Nya. Amiiiin.

#penulis: dwiprahoroirianto

Sumber status Daru Indriyo di Facebook

Jadi tidak ada sesuatu yang mustahil yang dijadikan peluang untuk meraih kesuksesan didalam hidup ini. Semua tergantung kita, semangat, kemauan, dan kesadaran diri untuk mendapatkan peluang kerja dan meraih kesuksesan. Tidak hanya dari gambaran status diatas, teman-teman blogger yang rata-rata pengangguran dan bahkan dulunya sebagai karyawan di sebuah kantor atau pabrik, mereka memutuskan untuk mendapatkan peluang kerja di internet dan banyak dari mereka yang saat ini benar-benar sukses